Opini Masyarakat: November 2019

Sunday, 17 November 2019

Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Sukarno


Belakangan ini sedang hangat hangatnya pembahasan tentang wacana yang disampaikan oleh ibu sukmawati yang merupakan anak dari presiden pertama indonesia. Ibu sukmawati membuat satu pertanyaan yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden Pertama Indonesia yaitu Soekarno. Beliau mengatakan siapa yang berjuang memerdekakan indonesia pada abad ke 20, Nabi Muhammad atau Soekarno?. Tentu wacana ini memancing reaksi ummat islam.

Sebenarnya kita tidak perlu memperkeruh masalah ini karena bisa ditangkap dari gaya bahasa Ibu Sukmawati yang begitu cinta akan NKRI yang merupakan negara dengan beragam agama. Ibu Sukmawati ingin melihat kerukunan dalam bernegara tanpa mengedepankan agama, tetapi mengedepankan persatuan. Namun Ibu Sukmawati menyampaikan wacana yang tidak tepat pada tempatnya, berikut opini dari wacana Ibu Sukmawati:

1. Berawal dari pertanyaan yang salah
Mengapa dikatakan pertanyaan yang salah? karena pertanyaan yang salah akan melahirkan jawaban yang salah. Bisa ditangkap bahwa inti wacana yang ingin disampaikan oleh Ibu Sukmawati adalah penegasan bahwa Soekarno adalah tokoh yang berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Namun mengambil pertanyaan yang membandingkan seorang Nabi dengan manusia biasa adalah kesalahan besar. Nabi Muhammad SAW dengan Soekarno tidak berada pada jaman yang sama, jadi tentu saja itu tidak bisa dibandingkan.

2. Status perbandingan yang berbeda.
Alasan kedua adalah status mereka, Nabi Muhammad SAW merupakan tokoh mulia yang berjuang untuk agama yang membawa keselamatan bagi ummat manusia di muka bumi dan bagi ummat islam, Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia yang tidak bisa dibandingkan dengan manusia lainnya. Dan siapapun yang beragama islam, itu karena hasil perjuangan Nabi Muhammad SAW. Sementara Presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno merupakan tokoh revolusi yang membawa kemerdekaan bagi Indonesia saja.

3. Mengambil perbandingan dari satu tokoh agama saja
Kesalahan yang ketiga adalah karena hanya mengambil perbandingan dari satu tokoh agama saja. Jika memang perbandingan tersebut hanya bertujuan untuk mempersatukan NKRI, Maka seharusnya mengambil perbandingan dari semua tokoh agama. Akibatnya terkesan bahwa yang disudutkan adalah ummat islam radikal.